✔ Contoh Format Content Marketing Terbaik untuk Promosi Produk

Artikel blog (94%) dan video (84%) masih jadi contoh content marketing terfavorit.1 Namun, jangan membatasi strategi promosi Anda pada dua format konten itu saja. 

Faktanya, Anda bisa mengeksplorasi banyak format potensial yang sesuai target pasar maupun identitas brand. Apalagi dengan kehadiran AI, proses produksi materi pemasaran kini bisa lebih cepat.

Apa saja contoh ide content marketing yang patut dicoba untuk mempromosikan sebuah produk/jasa?

Ide Content Marketing untuk Strategi Pemasaran Digital

Ada selusin format konten yang bisa Anda buat, dari yang paling familier hingga yang masih jarang dimanfaatkan brand lokal. Berikut daftarnya:

1. Artikel Blog

Seperti yang sudah disebutkan di awal tadi, artikel blog adalah contoh content marketing klasik, tapi tetap relevan sampai hari ini.

Alasannya, artikel blog adalah mesin traffic organik jangka panjang. 

Ya, setiap artikel yang dioptimasi dengan baik bisa terus mendatangkan pengunjung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, tanpa biaya tambahan. 

Menurut laporan HubSpot State of Marketing 2026, blog merupakan saluran penghasil ROI tertinggi.2

Bagaimana strateginya?

Fokus pada artikel panjang (1.500+ kata), targetkan keyword yang relevan di tiap artikel, serta publikasikan secara konsisten. Kualitas dan relevansi harus lebih diutamakan daripada kuantitas semata.

Publikasimedia sendiri menggunakan blog sebagai salah satu pilar strategi content marketing kami. 

Contoh brand lain yang juga menjalankan strategi ini adalah Traveloka. Meski sudah menjadi brand besar, mereka tetap aktif memproduksi konten blog seputar traveling yang menghasilkan jutaan traffic per bulan.

2. Short-form Video

Format artikel memang populer, tetapi ternyata 63% konsumen mengatakan lebih suka belajar tentang produk/jasa lewat short video.3 Durasi paling efektif antara 30 detik hingga 2 menit.

Kuncinya ada di tiga elemen berikut:

  • Hook yang kuat pada 3 detik pertama, 
  • Audio yang sedang trending
  • Caption yang muncul langsung di video (native captions).

Strategi Duolingo di TikTok adalah contoh sukses content marketing dengan video pendek. Mereka tidak seperti sedang membuat iklan, melainkan video dengan karakter burung hantu yang tampil dalam berbagai situasi.

3. Press Release

Secara teknis, press release bukanlah iklan. Tidak ada call-to-action maupun penawaran langsung di dalamnya. 

Di satu sisi, press release merupakan salah satu contoh content marketing yang amat berguna jika Anda ingin membangun awareness dan kredibilitas.

Katakanlah brand Anda mendapat liputan dari Kompas, Tempo, atau CNN Indonesia. Brand Anda pasti akan meraih kepercayaan publik lebih tinggi.

Para jurnalis sendiri menilai press releases sebagai tipe konten yang paling mereka ingin terima dari brand (71%).4

Cision, State of the Media Report 2025

Brand besar seperti Tokopedia, Gojek, dan berbagai startup secara rutin mendistribusikan press release ke media nasional. Tujuannya untuk mempertahankan eksposur di tengah persaingan.

Bagi brand yang ingin membangun kepercayaan publik dengan cepat,layanan distribusi press release Publikasimedia bisa menjadi solusi praktis.

4. User-Generated Content (UGC)

UGC adalah konten buatan pengguna atau pelanggan Anda, bukan oleh tim marketing.

Bentuknya beragam, dari foto unboxing, video review, testimoni di Google Maps, atau thread pengalaman penggunaan. 

Konten semacam ini punya daya persuasi yang luar biasa karena sumbernya dari orang yang bersinggungan langsung dengan brand.

Data membuktikan: konsumen 2,4x lebih percaya pada UGC dibanding konten brand.5

GoPro adalah contoh terbaik yang menerapkan praktik UGC. 

Mereka secara aktif me-repost foto dan video dari pengguna, bahkan memberikan reward untuk konten terbaik. Setiap konten yang diposting menjadi bukti nyata kualitas produk mereka.

5. Infografis

Riset menunjukkan orang mampu mengingat hingga 65% konten visual bahkan setelah 3 hari, sedangkan konten tulisan hanya 10–20%.6

Itulah kenapa infografis bekerja paling baik untuk menyederhanakan data kompleks, statistik, atau proses bertahap. 

Formatnya juga lebih mudah dibagikan di media sosial, dan jika Anda menyediakan embed code, infografis berpotensi mendapatkan backlink organik dari situs lain.

Hubspot misalnya, mereka konsisten menyisipkan infografis di artikel-artikel blog mereka. Konten-konten tersebut terus dikutip oleh banyak sumber.

6. Carousel Edukatif

Selanjutnya format carousel, salah satu contoh content marketing di Instagram yang sangat powerful

Mengutip Socialinsider, carousel memang memiliki engagement rate 0,55%, paling kuat dari tahun ke tahun.7

Sudah bikin konten carousel tapi masih minim engagement? Mungkin Anda belum melakukannya dengan benar.

Rahasianya ada di framework AIDA per slide-nya.

Coba buat dengan urutan begini: 

  1. Buat slide pertama yang menarik perhatian (Attention).
  2. Slide berikutnya membangun minat dan keinginan (Interest & Desire)
  3. Kemudian slide terakhir mendorong aksi (Action). 

Ingat, tujuan utama konten carousel adalah saves dan shares. Dua parameter tersebut dapat menjadi sinyal kuat algoritma Instagram untuk mengangkat popularitas konten Anda.

7. Microapps (Tools Gratis)

Ini format yang masih jarang dimanfaatkan brand, padahal dampaknya luar biasa. 

Microapps adalah fitur di website yang fungsinya relevan dengan tujuan bisnis.

Misalnya, alih-alih membagikan brosur dalam bentuk PDF, Anda bisa menggantinya dengan konten interaktif. Selain itu, dengan microapps, brand mobil bisa menambahkan fitur custom aksesori hingga ke pemesanan.

Sebagai contoh nyata, IBM berhasil mengubah pendekatan dari konten statis ke sistem microapps yang menghasilkan engagement 250% lebih tinggi. Mereka telah meluncurkan lebih dari 1.000 microapps untuk berbagai use case di marketing, sales, dan customer success.8

8. Whitepaper

Untuk strategi pemasaran B2B, contoh content marketing ini sangat cocok. 

Mengapa? 

Pembeli B2B butuh informasi mendalam sebelum mengambil keputusan. Mereka tidak beli secara impulsif. Whitepaper dapat memberikan justifikasi logis yang mereka cari.

Umumnya, pengunjung diberi akses ke dokumen setelah mengisi formulir dengan email. Sekitar 76% pembeli B2B bersedia berbagi informasi pribadi untuk mengakses whitepaper berkualitas.9

Jadi, selain menguntungkan bagi mereka, ini juga menjadikan lead magnet yang efektif.

9. Webinar & Live Streaming

Keduanya berbeda, dan penting untuk memilih mana yang sesuai tujuan bisnis Anda.

Pertama, webinar, yaitu acara seminar online dengan mengundang seluruh peserta ke ruang virtual. Formatnya lebih terstruktur dan eksklusif. 

Di sisi lain, live streaming di YouTube atau platform lain bersifat terbuka sehingga dapat menjangkau audiens lebih luas secara real-time.

Setelah selesai, repurpose rekamannya menjadi video on-demand. Pasalnya, saat ini 45% audiens memilih menonton rekaman. Menurut ON24, jika konten selalu tersedia on-demand, maka konten Anda berpotensi mendapatkan tambahan views hingga 80%.10

Exabytes adalah contoh brand Indonesia yang aktif menggunakan webinar maupun live streaming sebagai media edukasi pelanggan tentang topik yang menjadi spesialisasi mereka.

10. Email Marketing

Contoh content marketing berbasis teks lainnya adalah email marketing. Anda mungkin tidak mengira bahwa metode ini punya ROI besar.

Setiap US$1 yang diinvestasikan di email marketing menghasilkan rata-rata return sebesar US$36.11 Di sisi lain, rasio klik tayang (CTR) email rata-rata mencapai 2–5%, jauh di atas engagement organik media sosial.12

Bedanya dengan format lain, email marketing sangat terpersonalisasi. Anda bisa mengirim pesan berbeda kepada tiap segmen audiens berdasarkan perilaku, preferensi, atau tahap pembelian mereka.

Rata-rata brand besar masih menjalankan strategi ini. Tinggal bagaimana Anda menyiapkan cara untuk mengumpulkan database email pelanggan.

11. Podcast

Ya, podcast juga termasuk contoh content marketing populer yang dijajaki oleh banyak brand selama beberapa tahun terakhir.

Banyak brand mencoba podcast, tetapi tidak semuanya berhasil. Alasannya, memang tidak semua brand cocok menggunakan medium ini.

Podcast yang sukses biasanya memiliki sosok yang kuat di balik mikrofon atau topik yang cukup menarik untuk diperbincangkan selama 30–60 menit. Satu lagi, yakni konsistensi jadwal rilis. 

Pada satu titik, orang akan menantikan kehadiran podcast Anda untuk mendengarkan topik atau pembicara favorit mereka. Di sinilah brand bisa menyelipkan promosi yang mengalir dalam pembicaraan.

Jangan salah, 75–88% pendengar cenderung mengambil tindakan (mencari brand, mengunjungi situs, membeli) setelah mendengar iklan di podcast.13

Di Indonesia ada beberapa podcast branded” yang berhasil menarik perhatian audiens, seperti:

  • SALDO BRI,
  • WattsUp Podcast PLN Mobile,
  • Podcast RockAroma ID,
  • Podcast Naik Kelas.

12. Artikel Thought Leadership

Terakhir, jika ingin dikutip atau mendapatkan brand mention organik dari media lain, strategi thought leadership adalah jawabannya.

Contoh content marketing ini menyajikan opini ahli, analisis mendalam berbasis data internal, atau sudut pandang unik yang tidak dimiliki orang lain. Inilah yang Google maksud dengan kriteria E-E-A-T (Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness).

Survei terhadap 3.500 profesional manajemen di 7 negara menunjukkan bahwa thought leadership bukan hanya meningkatkan awareness, tetapi juga membuat pembeli meninjau ulang asumsi mereka.14

Dengan konten thought leadership, Anda dapat meningkatkan demand dan membuat audiens rela membayar lebih untuk suatu keahlian, serta melindungi pelanggan yang sudah ada dari kompetitor yang mencoba mengambil alih.

Jika ingin tahu lebih lanjut tentang thought leadership, silakan baca di artikel kami sebelumnya.

Tips Membuat Content Marketing yang Sesuai Platform

Sebelum menutup artikel, Publikasimedia ingin berbagi tips. Format konten saja tidak cukup. Eksekusi yang tepat di platform yang tepat akan lebih menentukan hasil strategi content marketing Anda. Berikut tipsnya:

  • Pahami algoritma setiap platform. Pendekatan yang sama tidak akan bekerja di semua platform. Contohnya, di LinkedIn harus membuat konten profesional berbasis teks dan data. Sementara di TikTok, Anda bisa membuat konten video pendek yang autentik. 
  • Terapkan repurposing. Satu konten panjang bisa dipecah menjadi thread, carousel, video pendek, dan newsletter email.
  • Fokus pada search intent. Jawab tuntas apa yang benar-benar audiens cari alih-alih sekadar menyisipkan keyword sebanyak mungkin.
  • Jaga konsistensi brand voice di semua saluran. Tone boleh berbeda di setiap platform namun karakter dan nilai brand harus tetap sama.
  • Ukur dan iterasi. Tentukan KPI yang relevan untuk setiap format, lalu optimasi berdasarkan data.
  • Bangun konten evergreen sebagai fondasi. Seperti yang pernah kami bahas, konten evergreen akan relevan bertahun-tahun. Ini menjadi aset jangka panjang yang terus bekerja meski Anda tidak mempromosikannya.

Strategi Content Marketing Butuh Waktu, Tapi Ada Cara untuk Boosting Kepercayaan Audiens

Berbagai contoh content marketing di atas membuktikan satu hal, yakni promosi yang efektif butuh kombinasi berbagai format konten, bukan satu saja. 

Jika ingin bersaing, inilah pilihan jalannya. Tidak ada alasan untuk meninggalkan content marketing yang mampu menghasilkan 3x lebih banyak leads dengan biaya 62% lebih rendah dari outbound marketing.[15]

Akan tetapi, hasilnya memang baru terasa setelah Anda konsisten menjalankannya dalam jangka waktu yang relatif lama. Masalahnya, brand baru kadang-kadang butuh kepercayaan publik segera. Di sinilah Anda perlu jasa press release

Publikasimedia siap membantu brand Anda hadir di media lokal dan nasional untuk memberikan otoritas yang sulit didapat. Hubungi kami melalui kontak yang tertera jika Anda berminat.

Referensi (terakhir diakses pada 13/5/2026):

  1. Statistik tentang content marketing. https://www.rebootonline.com/content-marketing-statistics/ ↩︎
  2. Laporan HubSpot State of Marketing 2026. https://www.hubspot.com/marketing-statistics ↩︎
  3. Statistik terbaru video marketing. https://wyzowl.com/video-marketing-statistics/ ↩︎
  4. Jurnalis mengharapkan press release dari brand. https://www.cision.com/resources/guides-and-reports/2025-state-of-the-media-report/ ↩︎
  5. Konsumen lebih percaya pada UGC daripada konten brand. https://www.nosto.com/blog/stackla-survey-reveals-disconnect-between-the-content-consumers-want-what-marketers-deliver/ ↩︎
  6. Orang lebih mudah mengingat konten visual. https://infogram.com/blog/effective-infographics-and-their-importance/ ↩︎
  7. Engagement rate format konten carousel Instagram. https://www.socialinsider.io/id/social-media-benchmarks/instagram ↩︎
  8. Statistik performa microapps IBM. https://www.tiled.co/blog/how-ibm-scaled-experience-and-performance-with-tiled-microapps ↩︎
  9. Pembeli B2B bersedia berbagi informasi pribadi. https://contentworks.agency/should-you-invest-in-whitepapers/ ↩︎
  10. Laporan tentang webinar untuk marketing. https://www.on24.com/resources/asset/webinar-benchmarks-report/ ↩︎
  11. Rata-rata ROI untuk email marketing. https://www.litmus.com/resources/email-marketing-roi ↩︎
  12. Rata-rata CTR email marketing. https://flowium.com/blog/email-marketing-benchmarks/ ↩︎
  13. Efektivitas podcast untuk iklan. https://www.adresultsmedia.com/news-insights/is-podcast-advertising-effective/ ↩︎
  14. Dampak thought leadership dalam pemasaran B2B. https://www.edelman.com/expertise/Business-Marketing/2024-b2b-thought-leadership-report ↩︎

Tinggalkan komentar