✔ Apa Arti Framing? Cara Humas & Media Membentuk Opini Publik

Istilah framing sering berkonotasi negatif di masyarakat. Padahal, framing banyak dipakai oleh sebuah entitas untuk membangun opini publik positif.

Ya, teknik ini menjadi salah satu kunci keberhasilan strategi komunikasi Humas (PR) untuk menguasai narasi.

Supaya pandangan Anda tidak keliru lagi, kali ini Publikasimedia akan menjelaskan apa arti framing dan bagaimana cara kerjanya.

Apa yang Dimaksud dengan Framing?

Arti framing adalah adalah cara penyajian informasi yang menonjolkan aspek-aspek tertentu dan menyembunyikan bagian lainnya. Efek dari framing adalah bias kognitif, di mana orang bisa membuat keputusan berbeda tergantung bagaimana informasi disajikan, meskipun faktanya sama.1

Secara umum, komunikator menggunakan strategi ini untuk memandu audiens melihat sebuah isu dari sudut pandang spesifik yang paling menguntungkan posisi mereka.

Alasan mengapa istilah ini memiliki konotasi negatif di masyarakat karena banyak pihak yang menggunakannya untuk kepentingan politik, propaganda, atau komersial dengan cara yang menyesatkan. Meski demikian, framing sebenarnya adalah sebuah teknik komunikasi yang netral.

Contoh sederhananya: 

  • “90% sukses” vs. “10% gagal” → angka sama, tapi persepsi berbeda.
  • “Diskon 20%” vs. “Hemat Rp20.000” → cara penyajian memengaruhi daya tarik.

Konsep framing sendiri pertama diperkenalkan oleh Gregory Bateson pada tahun 1972. Sosiolog Erving Goffman kemudian menyempurnakannya pada 1974 sebagai instrumen psikologi dan sosiologi untuk memahami cara manusia mengorganisasi pengalaman hidup mereka sehari-hari.2

Perbedaan dengan Agenda-Setting  

Agenda-setting menentukan isu apa yang penting, sedangkan framing menekankan bagaimana isu itu dipahami dan diberi konteks.

Contoh agenda-setting misalnya ketika media terus menyoroti isu korupsi, maka publik akan menganggap korupsi sebagai masalah utama.

Sementara arti framing berbeda, yakni memberikan konteks, misalnya isu korupsi dibingkai sebagai “kegagalan sistem hukum” atau “keserakahan individu,” yang mana keduanya menghasilkan pemahaman berbeda.

Teori Framing dari Para Ahli

Dalam ilmu komunikasi, terdapat beberapa teori populer3 yang menjelaskan tentang bagaimana cara kerja framing dalam memengaruhi opini publik secara luas:

Teori Robert N. Entman

Entman melihat proses penonjolan aspek tertentu berjalan melalui empat tahapan, yaitu:

  1. Define Problems: Menentukan apa masalah utamanya berdasarkan sudut pandang komunikator.
  2. Diagnose Causes: Mengidentifikasi siapa aktor atau apa faktor yang menjadi penyebab masalah tersebut.
  3. Make Moral Judgments: Memberikan evaluasi, label, atau penilaian moral terhadap aktor penyebab masalah.
  4. Suggest Remedies: Memberikan rekomendasi jalan keluar atau tindakan nyata untuk mengatasi masalah yang ada.

Teori Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki

Teori kedua membedah cara jurnalis merangkai fakta ke dalam sebuah teks berita. Pan dan Kosicki membaginya ke dalam empat elemen struktural, meliputi:

  • Sintaksis: Cara media menyusun fakta, biasanya terlihat dari pemilihan headline (judul berita) dan kutipan narasumber.
  • Skrip: Cara jurnalis menceritakan fakta menggunakan pedoman dasar jurnalistik 5W+1H.
  • Tematik: Cara penulis menghubungkan fakta, biasanya terlihat dari pola hubungan logis antar paragraf.
  • Retoris: Cara redaksi menekankan fakta tertentu melalui pemilihan kosakata, idiom, atau ilustrasi gambar pendukung.

Contoh Implementasi Framing

Praktik pembingkaian informasi diaplikasikan dalam berbagai bidang, mulai jurnalistik, pemerintahan, hingga korporasi. Contoh-contohnya seperti:

Praktik Framing Berita

Arti framing media merujuk bagaimana media memberi tahu audiens tentang isu apa yang harus dipikirkan, serta secara aktif mengarahkan bagaimana audiens harus memikirkan dan menilainya.

Framing di ruang redaksi sangat terikat dengan kebijakan editorial instansi. Fakta di lapangan akan disaring berdasarkan ideologi atau kepentingan ekonomi pemilik media tersebut.

Contoh framing media online misalnya:

  • Judul A: “Pemerintah Berhasil Menekan Inflasi” → menekankan keberhasilan.
  • Judul B: “Inflasi Masih Membebani Rakyat” → menekankan dampak negatif.

Framing dalam Politik

Selanjutnya, arti framing dalam politik adalah sebagai alat retorika persuasif

Menurut penjelasan dari University of Edinburgh Business School, tujuannya untuk mendefinisikan suatu masalah sosial demi memobilisasi dukungan massa secara cepat.4

Selain menyukseskan kampanye, pembingkaian yang tajam juga berfungsi meruntuhkan legitimasi argumen lawan. Politikus sering menggunakannya untuk memenangkan perdebatan tanpa harus berdebat secara teknis terkait kebijakan.

Framing oleh Humas Perusahaan

Berikutnya, di perusahaan, Humas bertugas menyuplai sudut pandang yang positif dan faktual tentang perusahaan saat mengeksekusi strategi media relations

Contoh kasus, ketika sebuah perusahaan merger karena suatu masalah, Humas bisa mengambil sudut pandang positif dalam press release untuk.

Alih-alih membingkai dengan informasi, “Perusahaan A Dibeli karena Bangkrut”. Humas bisa mengonstruksinya menjadi “Sinergi Strategis Perusahaan B dan C untuk Memperluas Pasar Nasional.” 

Pendekatan seperti ini penting dalam proses membangun reputasi perusahaan.

Kuasai Narasinya, Menangkan Reputasinya

Setelah memahami arti framing, Anda akan sadar bahwa teknik ini adalah salah satu strategi komunikasi yang sangat krusial. 

Pertanyaannya, bagaimana cara mem-framing bisnis?

Agar narasi positif bisnis Anda tersampaikan dengan baik, Publikasimedia dapat membantu Anda melalui layanan distribusi press release media nasional. 

Dominasi pemberitaan positif di media arus utama akan makin mengangkat reputasi perusahaan. Jika masih bingung, silakan konsultasikan kebutuhan kampanye Anda dengan kami.

Referensi (terakhir diakses pada 8/3/2026):

  1. Efek dari framing. https://www.scribbr.com/research-bias/framing-effect/ ↩︎
  2. Sejarah singkat framing. https://communication.uii.ac.id/framing-theory-shaping-perception-through-media/ ↩︎
  3. Teori framing yang populer. https://bakrie.ac.id/articles/883-analisis-framing-cara-media-membentuk-opini-publik-pahami-selengkapnya.html ↩︎
  4. Bagaimana politisi memanfaatkan framing. https://www.business-school.ed.ac.uk/research/blog/media-framing-and-how-it-shifts-the-narrative ↩︎

Tinggalkan komentar