Opini publik bukanlah sesuatu yang muncul secara kebetulan. Pada artikel sebelumnya, kami menjelaskan bahwa ini terbentuk dari keyakinan kolektif masyarakat terhadap suatu isu yang relevan pada momen tertentu.
Bagi sebuah brand, memenangkan opini publik berarti juga memenangkan kepercayaan, yang mana itu penting dalam membangun reputasi.
Mengutip berbagai sumber, pada artikel kali ini Publikasimedia akan membahas bagaimana cara membangun opini publik langkah demi langkah.
Bagaimana Proses Membangun Opini Publik?
Pembentukan opini publik melibatkan proses komunikasi sosial yang terencana. Berikut adalah caranya:
1. Mulai dengan Data & Fakta

Pertama, opini publik harus berdasarkan isu yang konkret dan relevan bagi publik sasaran. Maka dari itu, kuasai data terlebih dahulu.
Data dan fakta menjadi amunisi utama Anda karena publik saat ini sangat kritis, mereka menuntut bukti.
Jadi, sebelum melontarkan narasi, lakukanlah riset mendalam. Data yang valid membuat opini Anda sulit terbantahkan nantinya.
Beberapa pertanyaan yang perlu dijawab di awal antara lain:
- Masalah apa yang sedang dihadapi publik?
- Mengapa isu ini penting buat mereka, bukan hanya buat organisasi Anda?
- Apa konsekuensinya kalau isu ini diabaikan?
Makin jelas definisi isu serta relevansinya, makin mudah Anda menyusun narasi yang ‘nyangkut’ di kepala publik.
2. Lakukan Framing atau Pembingkaian Isu

Fakta yang sama bisa memiliki makna berbeda, tergantung bagaimana cara penyampaiannya. Di sinilah teknik framing bekerja.
Framing adalah cara menyajikan informasi dengan sudut pandang tertentu sehingga memengaruhi bagaimana orang menilai atau memahami suatu isu.1
Contoh: Sebuah kenaikan harga produk bisa di-frame sebagai “membebani konsumen” (negatif) atau “peningkatan standar kualitas” (positif).
Tentukan narasi yang paling relevan dan menguntungkan untuk framing, lalu konsistenlah menggunakan narasi tersebut dalam setiap format komunikasi.
Narasi utama untuk membangun opini publik idealnya:
- Singkat, mudah diingat, dan bisa dijelaskan dalam 1–2 kalimat.
- Berangkat dari keresahan publik.
- Memberi harapan atau arah solusi.
3. Agenda Setting

M. Iqbal Sultan dari Universitas Hasanuddin mengatakan kemenangan opini publik diraih ketika humas berhasil menguasai media massa.2 Alasannya, media massa memiliki kekuatan untuk menentukan apa yang dianggap penting oleh publik. Itulah agenda setting.3
Di era digital, siapa yang bicara duluan sering kali memimpin narasi. Jadi, humas harus cepat dalam merespons isu. Jika terlambat, akan ada pihak lain (atau kompetitor) yang mengisi kekosongan informasi dengan opini mereka.
Jika mampu menguasai media, Anda akan bisa melakukan agenda setting secara cepat dan masif, membuat publik membicarakan apa yang Anda inginkan, bukan sebaliknya.
Publikasimedia dapat membantu brand menyebarkan press release ke media nasional kredibel dalam waktu singkat untuk memastikan narasi Anda terbit sebelum pihak lain sempat mengambil alih pembicaraan.
4. Pilih Saluran yang Tepat

Setiap publik punya kebiasaan mengonsumsi informasi yang berbeda. Pesan yang bagus di tempat yang salah tidak akan menghasilkan opini publik. Oleh karena itu, membangun opini publik juga perlu memilih saluran yang tepat.
Apakah audiens Anda di TikTok, Twitter (X), atau pembaca media online? Bila perlu kombinasikan saluran-saluran yang tersedia.
Ingat, bukan sekadar hadir, tetapi harus konsisten membawa narasi yang sama meskipun kemasannya berbeda. Format video pendek, infografik, artikel panjang, podcast, semua bisa saling melengkapi.
5. Siapkan Kontra-Narasi (Manajemen Risiko)

Membangun opini publik adalah perang gagasan. Pasti ada pihak yang tidak setuju, bahkan mencoba menjatuhkan narasi Anda.
Jangan menunggu diserang. Zuli AG, Si.Kom via Andalas Net menyarankan humas untuk menyiapkan kontra-narasi sejak awal.4 Jika muncul isu negatif, segera luruskan dengan data (kembali ke poin 1).
Tujuannya bukan untuk membungkam kritik, tetapi memberikan perspektif penyeimbang agar publik tidak hanya mendengar dari satu sisi.
Nah, supaya Anda tidak sibuk memadamkan kebakaran ketika rumor muncul, lakukanlah beberapa upaya proaktif berikut:
- Memetakan lebih dulu kemungkinan salah paham yang akan muncul.
- Menyusun fact sheet dan penjelasan singkat yang bisa segera dipublikasikan ketika diperlukan.
- Gunakan pihak ketiga yang kredibel untuk memperkuat klarifikasi.
Membangun Opini Publik yang Berkelanjutan
Kesimpulannya, membangun opini publik yang baik adalah dengan cara menyajikan kebenaran dari sudut pandang terbaik, di waktu yang tepat, dan melalui media yang relevan.
Namun, ini bukanlah pekerjaan satu malam. Setelah opini terbentuk pun Anda tetap perlu mengukur apakah ada perubahan persepsi, sambil terus mengevaluasi.
Dari evaluasi ini, Anda bisa menyesuaikan narasi, memilih format pesan yang lebih efektif, atau memperkuat saluran yang ternyata berpengaruh.
Dengan begitu, Anda tidak hanya sekadar membentuk opini sesaat, melainkan ‘menabung’ reputasi positif untuk melindungi kredibilitas brand di masa depan.
Referensi (terakhir diakses pada 18/11/2025):
- Pengertian framing. https://binus.ac.id/bandung/2022/11/framing/ ↩︎
- Cara memenangkan opini publik. https://humasindonesia.id/berita/menangkan-opini-publik-dengan-empat-hal-ini-1337 ↩︎
- Pengertian agenda setting. https://glints.com/id/lowongan/agenda-setting-adalah/ ↩︎
- Mempersiapkan kontra-narasi untuk opini publik. https://andalasnet.com/single/strategi-membangun-opini-publik-dari-riset-isu-hingga-kontra-narasi ↩︎