Bisnis go digital itu tren pemasaran lama.
Terdengar kontroversial?
Faktanya memang begitu. Digitalisasi bisnis konvensional, seperti memindahkan toko fisik ke website, sekarang tidaklah cukup. Tantangannya lebih dari itu karena Anda harus bersaing dengan konten-konten artifisial.
Ya, sepanjang tahun 2025 lalu, pemanfaatan generative AI menjadi strategi pemasaran yang lagi viral. Namun, di tengah dominasi AI, keberhasilan pemasaran tetap bergantung pada satu hal, yakni trust (kepercayaan).
Oleh karena itu, untuk menghadapi pasar yang makin unik, Publikasimedia akan membagikan sederet strategi pemasaran viral yang tetap memperhatikan faktor trust.
Mari kita bedah satu per satu.
Saran Strategi Pemasaran yang Lagi Viral
Google dan sejumlah perusahaan telah merilis laporan tentang tren pemasaran yang berpotensi banyak digunakan ke depan. Beberapa di antaranya telah kami rangkum dalam daftar berikut ini:
1. Optimasi untuk AI Search
SEO is dead?
Pada 2025, banyak praktisi yang memprediksi itu karena AI. Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya.
Jika Anda melakukan pencarian di Google, jawaban dari AI (seperti AI Overviews) mengutip konten-konten blog yang otoritatif. Artinya, blog dengan fondasi SEO kuat dibutuhkan oleh mesin pencari AI sebagai sumber utama untuk menyajikan data yang valid kepada pengguna.

Oleh karenanya, SEO tidaklah mati, melainkan sedikit bergeser fokus strateginya, yang belakangan populer dengan istilah Generative Engine Optimization (GEO).
Ingin tahu lebih dalam soal teknisnya? Kami sudah pernah membuat panduan lengkap tentang GEO di sini.
Intinya, Anda bukan hanya mengejar volume traffic, tetapi menyediakan konten berkualitas tinggi agar ‘dianggap penting’ oleh AI.
Menariknya, sekarang zero-click search juga menjadi saluran revenue baru.1 Orang membaca jawaban AI, percaya pada sumbernya, lalu klik untuk membeli. Ingat, kuncinya adalah trust.
2. Konten AI dengan Sentuhan Manusia
Menurut Gartner, kita sedang berada di fase Trough of Disillusionment untuk generative AI.2 Hype-nya sudah lewat dan orang makin kritis. Audiens mulai muak dengan konten generik atau sering disebut ‘AI-slop’.
Strategi pemasaran yang sedang viral saat ini sebenarnya masih berkaitan dengan AI, tetapi bersifat hybrid. Maksudnya, brand memadukan kecepatan AI dengan kreativitas manusia.
Silakan gunakan AI untuk ideasi, membuat format otomatis, atau predictive testing. Di sisi lain, soal storytelling biarkan manusia yang memegang kendali.
Menurut data dari Smartly, 95% pemasar sudah pakai AI untuk asset creation dan optimization,3 tetapi sentuhan manusia-lah yang membuat konten pemasaran lebih ‘bernyawa’.
3. Strategi Internal Influencers
Beberapa bulan lalu kami pernah membahas tentang Employee Generated Content (EGC) sebagai salah satu bentuk employee advocacy. Sesuai dugaan, sekarang EGC menjadi strategi pemasaran yang lagi viral.
Karyawan didorong menjadi storyteller yang autentik di TikTok, Instagram, bahkan LinkedIn.

Contohnya, karyawan Anda membuat konten ‘behind the scenes’ atau ‘a day in my life’ bekerja di sebuah kantor. Pengalaman jujur dari karyawan seperti ini terbukti memiliki engagement jauh lebih tinggi.
Mengapa bisa berhasil? Karena audiens lebih percaya pada ‘orang biasa’ dibandingkan konten perusahaan yang terasa formal.
Intinya, karyawan itu aset penting dalam pemasaran. Mereka adalah wajah perusahaan.
4. Human-first Media
Masih berhubungan dengan poin sebelumnya, media berbasis individu (blog personal, channel YouTube, newsletter) kini menjadi strategi pemasaran yang lagi viral.
Kalimat, “Konsumen membeli dari sosok yang mereka percaya,” mungkin sudah sering Anda dengar di panduan pemasaran. Terdengar klise, tapi fakta di lapangan memang demikian.
Anda mungkin juga sadar, belakangan banyak perusahaan besar yang terjun ke YouTube dengan menggandeng orang-orang ternama.

Contohnya, Bank BRI membuat podcast bertajuk SALDO di YouTube mereka dengan host Indra Jegel, Dicky Difie, dan Hifdzi Choir. Bisa dibilang podcast tersebut adalah yang paling berhasil mengangkat views di YouTube Bank BRI.
Praktik lainnya, banyak perusahaan besar membeli media bisnis kecil atau personal brand untuk mengangkat nama.

Ingat saat HubSpot mengakuisisi The Hustle? Atau Semrush yang mengambil Backlinko? Ini bukti bahwa audiens lebih percaya pada manusia, bukan entitas korporat.
Human-first media dipercaya akan menghasilkan pengikut dengan loyalitas yang lebih kuat.
5. Nostalgia Marketing
Phil Wilson, VP dari divisi ads marketing Google, via Think with Google memasukkan ‘nostalgia’ dalam prediksi strategi pemasaran teratasnya.4
Menurutnya, di tengah gonjang-ganjing dunia, banyak konsumen mencari kenyamanan dari masa lalu, seperti makanan, game retro, fesyen vintage, dll.
Nostalgia yang digunakan secara tepat memang dapat menciptakan koneksi emosional dengan audiens. Kesuksesan kampanye yang melibatkan elemen nostalgia dari sebuah brand bahkan terbukti meningkat hingga 20%.5
Namun, perlu digaris bawahi bahwa strategi ini bukan sekadar me-release ulang, melainkan remix aset lama (logo, jingle, iklan klasik, produk lama) menjadi pengalaman baru yang relevan lintas generasi.

Di Indonesia, contohnya adalah kesuksesan film ‘Petualangan Sherina 2’. Strategi pemasarannya bukan hanya menjual film, melainkan reuni masa kecil melalui konser, merchandise, dan aktivasi yang memicu kenangan generasi 90-an.
6. Authority Building
Selanjutnya, authority building juga telah menjadi salah satu strategi pemasaran digital yang krusial bagi bisnis modern dan ini adalah keahlian kami. Salah satu strateginya, yakni digital PR.
Di Publikasimedia, kami menangani distribusi press release ke media nasional, yang mana itu menjadi salah satu kampanye digital PR paling diminati.

Liputan dari media-media kredibel memberikan brand mention yang sangat berharga di mata Google maupun mesin AI. Pasalnya, artikel di media massa jadi bukti bahwa bisnis Anda nyata dan tepercaya.
Jika perlu bantuan mendistribusikan press release ke media top tier, Publikasimedia siap membantu Anda.
7. Video Commerce Short-Form
Video pendek masih menjadi strategi pemasaran yang lagi viral. Akan tetapi, sekarang bukan lagi sekadar menjadi pelengkap, melainkan tulang punggung pemasaran.
Seperti yang Anda tahu, format video pendek mendominasi hampir semua platform, mulai TikTok, Instagram, YouTube, bahkan sekarang merambah LinkedIn.
Penggunaan AI seperti OpenAI Sora atau Google VEO memungkinkan pembuatan iklan video dengan cepat. Namun, tetap saja kekuatan narasinya harus datang dari taste si pemasar itu sendiri.
Fokus videonya bisa berupa demonstrasi produk atau storytelling visual dengan CTA (Call-to-Action) yang jelas. Konsumen ingin melihat apakah produk Anda relevan dengan mereka dalam waktu sekitar 60 detik sebelum memutuskan membeli.
8. Strategic Rule-breaking
Tahukah Anda? Di platform X (Twitter) ada satu strategi pemasaran yang lagi viral dari maskapai Ryanair. Mereka sudah melakukan ini sejak lama dan terbukti sukses. Brandwatch menyebutnya strategic rule-breaking.6
Simpelnya, Ryanair melanggar aturan-aturan komunikasi tradisional untuk terlihat lebih menonjol. Cara ini berisiko, tetapi jika berhasil, orang-orang akan sangat menyukainya.
Sebagai contoh, Ryanair sering membalas mention pengguna dengan nada ketus. Aneh? Sangat. Efektif? Luar biasa.

Mereka seolah tidak ingin terlihat terlalu sopan karena yang sopan sering kali mudah terlupakan.
Yang terbaru, teknik ini juga dilakukan oleh brand lokal Amanda Brownies. Alhasil, tweet mereka sering viral dan mendorong penjualan produk di cabang-cabangnya.

Anda bisa menirunya dengan menunjukkan kejujuran brutal dari perusahaan atau sedikit chaos di belakang layar. Orang suka melihat ‘dapur’ yang autentik karena itu terasa nyata dan membuat mereka dekat dengan brand.

9. Event Tatap Muka
Digital fatigue itu nyata terjadi. Ketika Anda baru ingin menuju digital, banyak bisnis menyadari bahwa konsumen mereka saat ini justru haus akan pengalaman tatap muka.
Event, komunitas, dan interaksi offline lainnya menjadi strategi pemasaran yang lagi viral karena efektif membangun kepercayaan dibanding interaksi digital semata.

Data mendukung pergeseran ini. Laporan State of Events and Industry Benchmarks 2025 dari Bizzabo menunjukkan 57% penyelenggara acara melihat peningkatan kehadiran fisik.7 Lebih menarik lagi, 75% peserta mengatakan pengalaman imersif membantu mereka memutus kebisingan digital untuk terlibat lebih bermakna dengan orang lain.
Contoh praktiknya, komunitas lari yang disponsori brand atau live podcast yang bertemu dengan pendengarnya secara langsung. Intinya, jangan terpaku pada konten digital saja. Saat ini, membangun koneksi secara langsung dengan audiens sama pentingnya.
10. Sustainability Storytelling
Era di mana brand memasang logo ‘daun hijau’ dan berjanji untuk ‘menyelamatkan bumi’ telah berakhir. Konsumen sekarang terlalu pintar untuk termakan greenwashing.
Narasi sustainability harus berubah. Jangan hanya bilang produk Anda ramah lingkungan. Ceritakan juga apa untungnya buat konsumen.
Alih-alih bilang, “Bahan ini mendaur ulang limbah laut,” katakan “Bahan daur ulang ini membuat sepatu Anda 3x lebih awet dan tahan air.”
Sebenarnya konsumen peduli pada bumi, tetapi mereka lebih peduli pada dompet dan kenyamanan mereka sendiri. Jadi, hubungkan keduanya.
11. Partisipasi Audiens dengan Co-Creation
Dulu, pemasaran itu sifatnya broadcast dan searah. Brand bicara, audiens mendengar.
Sekarang, strategi pemasaran yang lagi viral adalah co-creation atau kampanye yang melibatkan partisipasi audiens, khususnya para digital-native.
Kolaborasi dengan kreator YouTube dan penyediaan aset mentah (karakter, suara, visual) menjadi kunci membangun komunitas.
Dalam hal ini, biarkan audiens menjadi bagian dari departemen kreatif Anda.
12. Social Commerce 2.0
“Cek link di bio untuk beli produknya.”
CTA di atas sudah kuno.
Pelanggan tidak mau ribet harus klik link, lalu masuk web, login, masukkan produk ke keranjang, lalu checkout. Ke depan, friksi semacam ini berpotensi menurunkan tingkat konversi.
Di era social commerce 2.0, proses pembelian harus sependek mungkin. Kalau bisa, lihat, suka, masukkan keranjang, bayar, semua tanpa meninggalkan aplikasi.

Itulah yang dilakukan TikTok Shop, Instagram Checkout, dan fitur tagging di YouTube. Silakan manfaat platform tersebut dalam strategi pemasaran Anda.
Apa implikasinya bagi pemasar?
Konten Anda harus melakukan dua fungsi sekaligus, yakni menghibur (agar ditonton sampai habis) dan menjual (agar tombol keranjang diklik). Batas antara hiburan dan belanja sudah benar-benar kabur.
13. Pemasaran dengan Target Gen Alpha
Gen Alpha (kelahiran 2010+) kini memasuki usia remaja dengan daya beli yang mulai tumbuh.
Mengutip Forbes, Gen Alpha terbiasa dengan pengalaman visual.8 Konten tradisional (iklan cetak/TV) dinilai kurang efektif. Mereka lebih tertarik pada konten digital yang interaktif, personal, dan partisipatif.
Tidak ada batasan antara online dan offline. Bagi mereka, skin avatar di Roblox sama berharganya dengan baju fisik.
Maka dari itu, brand harus berani masuk ke dunia mereka. Jika brand Anda tidak bermain di sana, bagi mereka, brand Anda tidak ada.
Ada dua strategi pemasaran yang lagi viral di kalangan Gen Alpha:
- Pertama, Gen Alpha sangat dipengaruhi rekomendasi teman/figur yang dipercaya (influencer marketing).
- Kedua, gamifikasi, yang dapat meningkatkan engagement rate dan loyalitas.

Silakan pilih atau jalankan kedua strategi tersebut.
Apa Langkah Selanjutnya?
Teknologi baru dan AI memang mengubah cara penyampaian pesan. Namun, teknologi tidak mengubah alasan orang membeli. Orang tetap membeli karena rasa percaya (trust).
Melihat 13 tren di atas, benang merahnya jelas, yaitu menggunakan teknologi hanya sebagai alat karena tujuannya adalah manusia. Anda tidak perlu mengeksekusi semua tren ini sekaligus. Pilih saja strategi yang paling memungkinkan membawa brand Anda bersinar di tengah pasar.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Publikasimedia tetap percaya bahwa pemasaran terbaik adalah yang tidak terasa seperti iklan. Ini harus menjadi cerita yang layak didengar.
Jadi, stop sekadar memproduksi konten dan mulailah bangun koneksi yang bernilai.
Referensi (terakhir diakses pada 5/1/2026):
- Zero-click search menjadi saluran revenue baru. https://www.theedigital.com/blog/digital-marketing-trends#h-6-omnichannel-marketing-amp-multi-surface-visibility:~:text=to%20reference%20first.-,Zero%2DClick%20Search%20Is%20a%20Revenue%20Channel,-%2C%20Not%20a%20Traffic ↩︎
- Kita berada di fase Trough of Disillusionment untuk AI. https://www.smartinsights.com/digital-marketing-strategy/digital-marketing-trends-2026/ ↩︎
- Sebagian besar pemasar sudah pakai AI. https://go.smartly.io/rs/197-FPQ-506/images/Smartly-Digital-Advertising-Trends-2026.pdf?mkt_tok=MTk3LUZQUS01MDYAAAGfKoqu5MEYV6NkSsSPvbJTAKB5-_5t2nR3zlgquf49yacPgDbxl_n98wjMRZt_nliPHrt2yadRzM9L9OyM-TBUJlMS-Z6DEtsBqh7KBkuPLA ↩︎
- Pemasaran nostalgia sedang populer. https://business.google.com/uk/think/consumer-insights/digital-marketing-trends-2026/ ↩︎
- Pemasaran nostalgia meningkatkan kesuksesan hingga 20%. https://www.pulse-advertising.com/resources/social-media-news/nostalgia-marketing-cultural-revival/ ↩︎
- Strategic rule-breaking. https://www.brandwatch.com/reports/digital-marketing-trends-2026/view/#block-30 ↩︎
- Peningkatan minat terhadap acara tatap muka. https://www.bizzabo.com/blog/power-of-in-person-events-2025 ↩︎
- Strategi pemasaran untuk Gen Alpha. https://www.forbes.com/councils/forbesagencycouncil/2023/02/13/mastering-marketing-strategies-for-generation-alpha/ ↩︎