Banyak brand membuat konten dengan tujuan menaikkan jumlah followers. Mereka beranggapan banyak followers = brand makin populer.
Padahal, popularitas digital tidak hanya diukur dengan itu. Apa gunanya banyak followers, tetapi mereka tidak peduli dengan konten Anda?
Oleh karena itu, daripada mengejar vanity metrics (angka semu) semata, lebih baik Anda fokus meningkatkan interaksi nyata. Angka dalam engagement rate (ER) lebih penting. Indikator ini berguna bagi bisnis untuk mengukur seberapa hidup hubungan brand dengan audiensnya.
Sebagai permulaan, Publikasimedia akan menjelaskan definisinya terlebih dahulu.
Apa Itu Engagement Rate dan Mengapa Vital bagi Bisnis?
Engagement rate adalah metrik yang menunjukkan tingkat interaksi audiens terhadap konten dibandingkan dengan jumlah follower atau reach. Bentuknya berupa persentase atau rasio.
Mengutip Sprout Social, jenis interaksi yang dihitung mulai like, komentar, share, klik tautan, retweet, dan bentuk keterlibatan lain sesuai platform.1

Banyak orang salah kaprah dengan menganggap ER hanya berlaku di media sosial. Namun, metrik ini juga diperhitungkan dalam kampanye digital lain seperti artikel blog, email marketing, dan media placement.
Dalam pemasaran digital, ER berfungsi untuk menilai seberapa efektif konten dalam menarik perhatian dan mendorong interaksi.
Jika konten tersebut memang sesuai dengan target audiensnya, mereka pasti akan meninggalkan jejak. Makin banyak audiens yang meninggalkan jejak, makin tinggi potensi ER karena algoritma sangat menyukai interaksi.
Konten dengan ER tinggi ini nantinya berpeluang disebarluaskan oleh platform. Kemudian saat sebuah konten terlihat aktif interaksinya, maka akan timbul trust dari audiens baru, yang akhirnya memungkinkan mereka jadi calon pelanggan.
Dari penjelasan barusan, secara singkat ada tiga fungsi utama engagement rate bagi bisnis, yaitu:
- Sebagai alat validasi relevansi konten.
- Pendorong algoritma.
- Indikator kepercayaan pengguna.
Engagement rate dianggap lebih krusial daripada reach dan followerskarena menunjukkan kualitas interaksi serta efektivitas konten dalam membangun komunitas.
Peran Engagement Rate dalam Pengambilan Keputusan Bisnis

Dengan memantau ER, Anda bisa melakukan audit terhadap efektivitas kampanye. Dari angka ini, akan terlihat konten apa yang lebih disukai oleh audiens.
Di sisi lain, ER memberikan data objektif untuk melakukan pivot strategi dengan cepat sebelum kerugian lebih besar terjadi.
Berikut beberapa contoh peran krusial engagement rate dalam pengambilan keputusan bisnis:
| Bidang | Peran |
|---|---|
| Content Marketing | Menentukan jenis konten (video, artikel, infografis) yang paling efektif menarik audiens. |
| Influencer Marketing | Membandingkan ER influencer untuk memilih mitra yang benar-benar punya audiens aktif. |
| Produk & Layanan | Mengukur respons audiens terhadap peluncuran produk baru melalui interaksi di media sosial. |
| Strategi Iklan | Menentukan platform iklan dengan engagement tertinggi untuk efisiensi biaya. |
| Brand Positioning | Menilai apakah brand sudah relevan dengan target pasar melalui interaksi audiens. |
Kendati demikian, ER tetap memiliki keterbatasan, yakni angkanya tidak selalu selalu mencerminkan dampak bisnis langsung, misalnya penjualan. Selain itu, ER mudah dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti algoritma platform atau tren sesaat.
Maka, penting bagi Anda untuk tidak hanya melihat angka ER secara mentah, tetapi juga mampu menerjemahkan metrik ini dengan benar.
Cara Cek Engagement Rate
Sayangnya, platform media sosial tidak menyodorkan angka engagement rate secara langsung di dasbor analitik utama. Mereka hanya menyediakan data reach, impression, follower, dan jumlah interaksi total.
Lalu, bagaimana cara mengetahui ER? Ada beberapa metode:
Menghitung Engagement Rate Secara Manual
Pertama, Anda harus mengolah data mentah tersebut menggunakan rumus.
Rumus ER sendiri selalu berbentuk rasio total interaksi dibandingkan dengan basis tertentu (follower, reach, impression, atau posting), lalu dikalikan 100% untuk menghasilkan persentase.
ER by Followers

Dengan rumus ini, Anda bisa melihat berapa persen followers yang benar-benar aktif dan loyal dalam berinteraksi.
Contoh: Akun perusahaan Anda memiliki 5.000 followers. Sementara jumlah total interaksi seluruh postingan hanya 100.
Hitungan: (100 / 5.000) x 100 = 2%.
ER by Reach

Rasio ER by reach memberi gambaran tentang kualitas konten Anda. Jika reach-nya kecil namun interaksinya tinggi, berarti konten tersebut sangat relevan.
Mengenai perbedaan reach dan impression sudah pernah kami jelaskan pada artikel lainnya.
Contoh: Anda membagikan postingan promo produk terbaru. Konten tersebut berhasil menjangkau 10.000 orang (reach). Total likes, comments, dan shares yang didapat adalah 500.
Hitungan: (500 / 10.000) x 100 = 5%.
Rumus engagement by reach menurut kami lebih akurat karena hanya menghitung orang yang benar-benar melihat konten.
Menggunakan Alat Bantu Pihak Ketiga
Kadang-kadang Anda juga perlu mengecek ER milik kompetitor untuk membandingkan performa atau seorang influencer yang mau diajak kerja sama.
Lantaran tidak memiliki akses langsung ke dasbor analitik mereka, Anda membutuhkan alat bantu pihak ketiga. Beberapa opsi engagement rate calculator gratis yang bagus antara lain:
- Phlanx: Untuk kalkulator engagement Anda harus menginput data followers, like, comment secara manual.

- Slice: Cara melihat engagement rate Instagram termudah adaklah dengan Slice. Dapatkan angka dan analisis lengkap sebuah akun cukup dengan memasukkan username.

- Social Cat: Untuk cek engagement rate Instagram keseluruhan dan per post.

Melalui Google Analytics (Khusus Website)
Apabila website bisnis Anda sudah terhubung ke Google Analytics 4 (GA4), rasio engagement bisa dilihat melalui langkah-langkah berikut:
- Masuk ke dasbor GA4 Anda.
- Klik menu “Siklus Proses”.
- Pilih “Akuisisi” > “Akuisisi Traffic”.
- Di tabel yang muncul, lihat kolom berjudul “Rasio Engagement”. Secara default, informasi ER yang disajikan meliputi rasio untuk akses direct, organic search, organic social, dan referral.

Rasio engagement di GA4 berasal dari perbandingan jumlah engaged sessions terhadap total sesi.
Engaged session sendiri harus memenuhi salah satu dari kriteria berikut:
- Bertahan ≥ 10 detik.
- Melakukan dua atau lebih pageviews.
- Memicu event penting.
Apakah bisa cek ER halaman website orang lain?
Tidak.
Anda tidak bisa melakukan itu secara akurat dan langsung. Sebagai alternatif, kami menyediakan panduan cek traffic website orang lain menggunakan beberapa tools gratis.
Berapa Engagement Rate yang Bagus?
Hootsuite mengatakan 1-5% itu sudah bagus. Namun, semua tergantung jenis platform, ukuran audiens, dan industrinya.2
Pada 2025, Hootsuite merilis data benchmark engagement rate rata-rata per industri. Ringkasan hasilnya sebagai berikut:
- Overall: LinkedIn (2.8%), TikTok (2%), Instagram (2%), Facebook (1.4%), X (1.6%).
- Tertinggi: Pemerintahan (LinkedIn 3.6%, Instagram 3.2%).
- Rendah: Finance (LinkedIn 2.3%, Instagram 1.8%), Dining/Tourism (TikTok 0.6%).
- Media & Entertainment: TikTok 2.1%, Instagram 2%.
Dari data di atas, paling tidak Anda dapat menargetkan supaya ER tidak di bawah rata-rata industri. Di satu sisi, penting juga untuk tidak hanya mengejar angka, melainkan kualitas interaksi.
Sepuluh komentar dari calon pembeli potensial jauh lebih berharga daripada seribu likes dari akun bot, bukan?
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Engagement Rate

Menurut penelitian Dimas Maulana dalam Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies (2023),3 tinggi rendahnya interaksi, terutama di media sosial, dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:
1. Transparansi Identitas
Apakah sebuah akun harus menampilkan sosok admin atau pemiliknya? Jawabannya: Ya.
Hasil riset menunjukkan bahwa akun yang menampilkan identitas asli (non-anonymous) memiliki rata-rata engagement rate (3,1%) yang jauh lebih tinggi dibandingkan akun anonim (1,83%).
2. Platform
Seperti yang sempat kami singgung sebelumnya, platform sangat menentukan ER.
Dari dua media sosial paling populer saja, yakni TikTok dan Instagram, perbedaannya sangat mencolok. Rata-rata ER di TikTok mencapai 5,53%, sementara di Instagram hanya 0,69%.
3. Jumlah Follower
Ada satu paradoks menarik di dunia digital. Makin banyak followers, biasanya persentase ER justru makin kecil.
Namun, ternyata itu tidak berlaku pada semua akun. Beberapa akun dengan follower loyal tidak menunjukkan hubungan negatif antara jumlah follower dengan ER mereka.
Pada penelitian Dimas Maulana, akun mega influencer justru mencatatkan ER tertinggi (5,05%), sedangkan akun kecil (nano influencer) malah memiliki performa terendah (0,69%).
Artinya, Anda tidak perlu takut untuk membesarkan basis follower secara agresif, meski kualitas interaksi tetap harus dijaga seiring pertumbuhan akun.
4. Pilar Konten
Apa isi konten yang paling laku?
Pemenangnya adalah konten yang merespons audiens secara langsung (seperti Q&A, diskusi, membalas komentar).
Sementara yang kurang efektif (menghasilkan ER rendah) adalah jenis konten yang murni berisi hiburan atau kehidupan pribadi saja.
Poin yang bisa dipetik, jadikan akun Anda sebagai ruang diskusi, bukan sekadar etalase hiburan. Khususnya akun bisnis, pengguna pasti mengikuti Anda karena ingin mendapatkan manfaat dan wawasan baru.
5. Frekuensi Posting
Konsistensi adalah kunci, tetapi ada batasnya. Data menunjukkan pola menarik terkait jumlah unggahan per minggu:
- Optimal: Akun dengan kinerja terbaik rutin mengunggah 10–15 konten per minggu (sekitar 2 konten per hari).
- Kurang Efektif: Mengunggah terlalu sedikit (<5) atau terlalu sporadis (>15) cenderung diasosiasikan dengan kelompok yang mendapatkan ER lebih rendah.
6. Penggunaan Hashtag
Sejauh ini, penggunaan hashtag masih menjadi standar industri. Mayoritas akun (sekitar 80-86%) rutin menggunakan hashtag dalam unggahan mereka.
Meskipun ada pengecualian pada beberapa akun besar yang tetap sukses tanpa hashtag, bagi mayoritas, hashtag tetap menjadi alat bantu distribusi konten.
7. Konten Komersial/Monetisasi
Khususnya akun bisnis, cara berjualan juga memengaruhi interaksi.
Promosi berupa endorsement produk dan bisnis pribadi mendominasi di akun-akun berkinerja baik.
Namun, penjualan produk seperti buku atau konten berat seperti workshop/pelatihan sering mendapatkan ER kurang dari 2,5%. Tandanya, perlu strategi yang lebih kreatif saat mempromosikan produk agar tidak membosankan.
8. Media Presence
Eksistensi di satu tempat saja tidak cukup. Akun-akun yang sukses meraih ER tinggi cenderung memiliki presence yang kuat di Instagram, TikTok, dan YouTube sekaligus.
Sinergi antar-platform ini memperkuat validitas brand di mata audiens. Apalagi jika Anda bisa muncul di media nasional terkemuka. Hal ini tentunya bisa menjadi social proof yang berharga.
Optimalkan Strategi Digital Anda untuk Meningkatkan Engagement Rate
Kesimpulannya, engagement rate adalah indikator kesehatan hubungan antara sebuah brand dengan pasarnya. Followers yang besar tidak akan berarti apa-apa jika tidak dibarengi interaksi nyata di dalamnya.
Tantangannya, untuk meningkatkan interaksi membutuhkan kepercayaan (trust) dari audiens. Selain dengan menambahkan Call-to-Action (CTA) yang jelas, gunakan juga media visual untuk menyederhanakan informasi yang rumit, dan dapatkan eksposur dari liputan media yang kredibel.
Ketika brand Anda muncul di deretan berita media tepercaya, persepsi publik akan berubah. Dari situlah interaksi berkualitas bermula.
Ingin meningkatkan reputasi bisnis untuk memancing engagement rate lebih tinggi? Publikasimedia menyediakan layanan distribusi press release yang akan menghubungkan bisnis Anda dengan jaringan media online nasional dan lokal terkemuka.
Referensi (terakhir diakses pada 8/1/2026):
- Pengertian engagement rate. https://sproutsocial.com/glossary/engagement-rate/ ↩︎
- ER rata-rata yang bagus menurut Hootsuite. https://blog.hootsuite.com/calculate-engagement-rate/ ↩︎
- Studi mengenai faktor-faktor yang dapat memengaruhi ER. https://jebmes.ppmschool.ac.id/index.php/jebmes/article/download/112/51/691 ↩︎