Penggunaan clickbait sering kali memicu perdebatan di meja redaksi.
Sebagian menganggapnya sebagai teknik manipulatif terlarang. Namun, pakar menilai bahwa clickbait sangat efektif jika dilakukan dengan cara yang benar.1
Selalu ada pro dan kontra. Oleh karena itu, penting untuk memahami pengertian clickbait secara utuh, dari fungsi, etika, hingga batasannya.
Di artikel ini, Publikasimedia akan menjelaskan sampai Anda mendapatkan jawaban: apakah penggunaan clickbait sah atau tidak.
Apa Arti Clickbait?
Clickbait adalah teknik penulisan judul atau visual yang dirancang untuk mendorong orang mengklik suatu konten. Tujuan utamanya mendatangkan traffic sebanyak mungkin dalam waktu singkat.
Umumnya, clickbait digunakan pada judul artikel, thumbnail video, caption media sosial, dan push notification.

Ciri khas yang mudah dikenali antara lain:
- Menggunakan judul yang sensasional atau provokatif.
- Memajang gambar yang mencolok.
- Menjanjikan sesuatu yang mengejutkan.
- Menyembunyikan informasi penting agar pembaca penasaran.
Intinya, teknik ini memanfaatkan rasa penasaran manusia yang sangat tinggi terhadap informasi yang sifatnya menggantung.
Lantas, apa beda clickbait dan hook?
Hook berfungsi menarik perhatian audiens dan membuatnya stay dengan kalimat yang sesuai isi konten. Sebaliknya, clickbait biasanya cuma mementingkan klik, tanpa peduli pada kepuasan audiens setelah membaca atau melihat isi kontennya.
Psikologi di Balik Clickbait

Mengapa jari kita gatal ingin mengklik judul yang lebay? Monk Prayogshala2 menjelaskan bahwa media memanipulasi atensi audiens melalui beberapa mekanisme psikologis:
- Dopamine Hit: Otak menyukai kebaruan (novelty). Janji akan informasi baru yang mengejutkan memicu pelepasan dopamin, yakni zat kimia yang menciptakan rasa senang.
- Information Gap: George Loewenstein menyebutkan bahwa ketika ada celah antara apa yang kita tahu dan apa yang ingin kita tahu, timbul rasa ‘gatal’ di otak (cognitive dissonance).3 Itulah yang memotivasi kita untuk mengklik judul clickbait.
- FOMO (Fear of Missing Out): Rasa takut ketinggalan informasi tren juga bisa membuat kita bertindak impulsif.
- Pemicu Emosi: Judul yang memancing amarah, kesedihan, atau kegembiraan ekstrem lebih mudah memikat atensi dibanding judul datar.
Jenis-Jenis Clickbait
Tidak semua bentuk clickbait sama. Patsy Nearkhou,4 manajer pemasaran di Talkative UK, membaginya ke dalam dua kategori utama, yaitu:
Spektakuler
Spectacular clickbait adalah jenis judul yang penuh dengan kata-kata superlatif dan dramatis. Biasanya penulis langsung menyapa pembaca dengan klaim yang bombastis.
Contoh: “Teknik Pemasaran Paling Gila yang Pernah Ada, Hasilnya Bikin Kagum!”
Gaya ini efektif untuk menarik klik cepat. Namun, risikonya tinggi jika isi tidak sepadan.
Misterius
Jenis kedua lebih halus karena bermain dengan ambiguitas, tanpa berlebihan. Judulnya tidak seperti berteriak, tetapi memancing rasa penasaran yang amat sangat.
Contoh: “Strategi Ini Mengubah Cara Brand Besar Mengelola Reputasi”
Clickbait thumbnail video berikut juga menggunakan prinsip yang sama:

Ketegangan kecil pada judul dan thumbnail di atas mendorong pembaca mencari jawaban di dalam konten.
Apakah Clickbait Diperbolehkan?
Jawabannya tidak hitam-putih.
Masalah utama clickbait adalah pada dampaknya, terutama ketika judul menyesatkan atau memanipulasi emosi berlebihan.
Dampak negatif (kontra) yang sering dipermasalahkan antara lain:
- Menurunkan kepercayaan audiens.
- Meningkatkan bounce rate.
- Merusak reputasi media atau brand.
- Menyebabkan penalti Google karena judul dan URL tidak sesuai isi halaman.
Namun, jika dimanfaatkan dengan benar, clickbait juga punya potensi positif (pro), seperti:
- Meningkatkan traffic situs web dalam waktu singkat.
- Mendorong potensi konten menjadi viral di media sosial.
- Membantu konten yang bagus mendapatkan perhatian di tengah persaingan ketat.
Jadi, penggunaan clickbait sebenarnya sah-sah saja selama isinya relevan dan tidak menipu pembaca.

“Jika perusahaan Anda punya produk yang benar-benar bermanfaat bagi konsumen, maka menarik orang datang ke situs Anda dengan cara apa pun bukanlah hal yang buruk,” kata Andrew Selepak, profesor di Universitas Florida via contentmarketinginstitute.com.
Clickbait dalam Jurnalistik
Media memang butuh atensi, tetapi integritas tetap nomor satu.
Berdasarkan kajian sebuah jurnal,5 praktik clickbait yang dilarang keras adalah yang bersifat Exaggeration (melebih-lebihkan fakta), Teasing (mengejek/memprovokasi berlebihan), atau yang menyebarkan berita palsu.
Namun, tipe judul yang menarik tetap diperbolehkan selama akurat dan proporsional. Dalam penulisannya, jurnalis harus mengacu pada Kode Etik Jurnalistik.
“Kalau gaya media arus utama makin mirip sumber bermasalah, batasnya jadi kabur sehingga sulit membedakan mana berita serius dan mana yang manipulatif.”6
Philipp-Lorenz Spreen via Kompas.id
Tips Menggunakan Clickbait dengan Benar

Jika Anda ingin menggunakan strategi ini untuk brand, lakukan dengan cermat. Simak tips berikut yang kami rangkum dari Meticulosity7:
1. Jangan Menyesatkan
Pertama, pastikan judul Anda benar-benar mewakili isi. Jangan berjanji ada “Rahasia Besar” jika isinya hanya tips umum. Kekecewaan pembaca adalah racun bagi brand.
2. Tahu Kapan Harus Menghindarinya
Tidak semua konten butuh clickbait. Jika konten Anda bersifat informatif serius atau technical, gunakan judul yang lugas (to-the-point). Kadang-kadang, judul sederhana justru lebih efektif membangun brand authority.
3. Pahami Aturan Main Platform
Hati-hati, algoritma platform saat ini makin pintar. Mereka bisa mendeteksi dan menghukum konten dengan judul spammyatau yang memancing interaksi palsu. Alhasil, jangkauan organik Anda berisiko dibabat habis oleh platform terkait.
4. Hindari Call-to-Action (CTA) di Judul
Jangan langsung jualan di judul artikel. Hindari kalimat seperti “Beli Sekarang!” atau “Klik di Sini!”. Pembaca mengklik untuk informasi, bukan untuk langsung ditawari produk di muka.
5. Jangan Memanfaatkan Tragedi (Newsjacking)
Terakhir, hindari menunggangi berita bencana atau tragedi demi klik. Ini bukan hanya tidak etis, tapi bisa memicu public backlash yang menghancurkan reputasi perusahaan Anda dalam sekejap.
Apakah Perlu Menggunakan Judul Clickbait untuk Publikasi Media?
Di artikel tips membuat press release yang 3x lebih powerful, kami menekankan pentingnya judul yang menggugah. Akan tetapi, menggugah bukan berarti harus clickbait.
Seleksi redaksi sangat ketat. Judul yang terasa manipulatif bisa langsung ditolak.
Di satu sisi, clickbait adalah teknik yang bisa sangat berguna. Jadi, jika ingin tetap menggunakan pendekatan ini, rencanakan secara matang atau terapkan pada konten soft news di media Anda sendiri.
Saran kami untuk strategi publikasi, gunakanlah metode yang aman dalam mengemas konten. Publikasimedia dapat membantu Anda menyusun narasi yang menarik, etis, dan layak tayang. Kami juga menyediakan akses terbit ke media-media kredibel di Indonesia. Hubungi kami untuk mulai membangun opini publik positif bagi brand Anda.
Referensi (terakhir diakses pada 16/1/2026):
- Pendapat Neil Patel tentang clickbait. https://neilpatel.com/blog/why-clickbait-works/ ↩︎
- Penjelasan psikologi di balik clickbait menurut oleh Monk Prayogshala. https://www.monkprayogshala.in/blog/2024/3/25/psychology-of-clickbait-how-media-manipulates-our-attention ↩︎
- Teori information gap George Loewenstein. https://digilib.uinkhas.ac.id/47772/1/Jocelyn%20Grisella%20Hadi%20-%20D20191107.pdf ↩︎
- Jenis clickbait menurut Patsy Nearkhou. https://contentmarketinginstitute.com/content-creation-distribution/is-clickbait-ever-used-for-good ↩︎
- Kajian tentang penggunaan clickbait dalam jurnalistik. https://jicnusantara.com/index.php/jiic/article/view/1454/1601 ↩︎
- Evolusi media daring menjadi clickbait. https://www.kompas.id/artikel/en-di-balik-evolusi-berita-media-daring-menjadi-clickbait ↩︎
- Tips menggunakan clickbait dengan benar. https://www.meticulosity.com/blog/why-clickbait-works ↩︎